Kamis, 15 Desember 2016

Anak berprestasi atau anak berbudaya?

Ini gegara semalem denger mantan pacar ngobrol sama gengnya -ibu2 komplek- ngomongin rapotan kemarin dan ada yang "curhat" karena putranya yang gak pernah masuk 10 besar dan di-judge sebagai anak tak membanggakan.

Hari rapotan itu buat sebagian orang tua atau anak-anak sendiri mungkin jadi hari deg degan nasional.
Bahkan mungkin ada yang sampai di level stress ringan saking terbawa suasana tegang dalam kekhawatiran yang cukup dalam.

Tapi sepertinya tidak buat kami - aku dan juga anak-anak.
Tidak ada yang sangat istimewa.
Semua serba seperti biasanya saja.

Entah benar atau salah caraku mendidik anak-anak dalam hal ini karena aku dan ibunya anak-anak jelas tak memiliki basic sebagai psikolog apalagi praktisi dunia pendidikan, tapi untuk urusan ini memang aku membiasakan diri untuk tak memasang target ranking, peringkat atau apapun itu.

So far anak-anak sepertinya nyaman dengan ini dan justru prestasi akademik mereka mengalir tanpa beban.

Ranking itu cukup diperlukan iya! Tapi as for me itu hanya salah satu pencapaian saja dari apa yang dipelajari.

Akhlak, kebiasaan baik, perkembangan empati, cara pandang terhadap masalah di sekitar, pola pikir, dan hal positif semacamnya itu jauh lebih penting.

Dan saat anak-anak kemudian dapat peringkat karena nilai akademik mereka baik, ya itu bonus lah.

Alhamdulillah si kakak dapat ranking 2, dan si bungsu dapat ranking 6 (dari tigapuluh sekian siswa ya, bukan 10 siswa.. Wakakakkakakakaakakk)

Senang? bangga? Ya iya lah..! Orang tua mana yang tak bangga punya anak-anak yang berprestasi.

Tapi sejujurnya jauh lebih bangga saat lihat hal-hal kecil sekecil si kakak yang saat buru buru berangkat sekolah justru kembali pulang dan memilih terlambat hanya karena lupa pamit (salim & cium tangan) atau lihat si bungsu yang ribet nyari tempat sampah setelah selesai minum susu kemasan kesukaannya dan lebih memilih tas ibunya atau kantong celananya jadi tempat penampungan sementara.

Salam hangat buat ayah-ibu hebat di belakang anak-anak berprestasi

Tangerang, 27/12/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

~ Menyerah ~

biar saja ku tetap di sini sebagai ilalang mungkin yang menunggu embus angin untuk dapat sekedar meliukkan batangku atau sebagai dedaun...