entahlah
segala senyap ini
adalah riuh bagimu
begitu katamu
lanjutkan saja langkahmu
lalu biarkan anganmu
mengembara ke savana luas
hingga kelak pekat malam
telah menjemputmu
tanpaku..
gigil pada awal malamku
tanpa gemintang di sana
lembab berpagut gulita
terasa demikian nisbi
serupa acuhku
atas adamu
yang t'lah bersulih makna
menjadi tiadaku
pergilah
jinjing saja angkuhmu
lalu biarkan jemawa
memeluk erat pandirmu
wahai!
DW
Tigaraksa, 31/07/2018
Selasa, 31 Juli 2018
Pak, aku kangen...!
Pak, aku kangen...!
Jarik ombo yang dulu dipakai menggendongku sambil disambi kemana-mana itu masih ada pak? Pasti warnanya udah njeblug ya pak.
Ingat pak waktu aku nyungsep di halaman samping gara-gara kabur dikejar induk ayam kita yang baru turun dari petarangan itu?
Padahal hanya luka kecil di sikut dan dengkulku, tapi nyaris sehari penuh aku berada dalam gendongan jarik ombo di punggungmu, meski kakiku hampir menyentuh tanah saking udah tingginya tubuhku.
Aku tetap ngetepel dalam gendonganmu, bahkan disambi memanjat anak-anak tangga di pohon aren mengambil nira bahan gula jawa dagangan kita.
Pak, aku kangen...!
Radio AM kita yang besar berbaterai 8 itu masih ada pak?
Dulu aku sering ya pak dibangunkan tengah malam pada saat sampai segmen uyon uyon dari wayang kulit semalam suntuk yang disiarkan RRI Jogja itu pak..
Yaaa untuk sekedar kita terbahak bersama mendengarkan dagelan para punakawan itu ya pak.
Pak, aku kangen...!
Kenapa sih pak, seumur hidupku tak pernah sekalipun aku dimarahi, dicubit atau dijewer?
Padahal aku suka bandel kan pak? Kalo udah main ciblon di sungai di perbatasan desa kecil kita bersama teman temanku, aku suka lupa pulang.
Saat teman temanku dihadiahi jeweran, aku hanya kau hadiahi sedikit gelengan kepalamu dan senyum kecil di sudut bibirmu sewaktu engkau menjemput paksa aku.
Pak, aku kangen..!
Aku rindu semua masa kecil dan remajaku bersama hangatmu.
Dan sungguh bukan sebuah drama
Saat tiba-tiba mataku menghangat tanpa kupinta pak
Baik-baik di sana ya pak.. Senantiasa sehat dan panjang usia..
Pak, aku kangen!!!
Tangerang, 30/07/2015
Jarik ombo yang dulu dipakai menggendongku sambil disambi kemana-mana itu masih ada pak? Pasti warnanya udah njeblug ya pak.
Ingat pak waktu aku nyungsep di halaman samping gara-gara kabur dikejar induk ayam kita yang baru turun dari petarangan itu?
Padahal hanya luka kecil di sikut dan dengkulku, tapi nyaris sehari penuh aku berada dalam gendongan jarik ombo di punggungmu, meski kakiku hampir menyentuh tanah saking udah tingginya tubuhku.
Aku tetap ngetepel dalam gendonganmu, bahkan disambi memanjat anak-anak tangga di pohon aren mengambil nira bahan gula jawa dagangan kita.
Pak, aku kangen...!
Radio AM kita yang besar berbaterai 8 itu masih ada pak?
Dulu aku sering ya pak dibangunkan tengah malam pada saat sampai segmen uyon uyon dari wayang kulit semalam suntuk yang disiarkan RRI Jogja itu pak..
Yaaa untuk sekedar kita terbahak bersama mendengarkan dagelan para punakawan itu ya pak.
Pak, aku kangen...!
Kenapa sih pak, seumur hidupku tak pernah sekalipun aku dimarahi, dicubit atau dijewer?
Padahal aku suka bandel kan pak? Kalo udah main ciblon di sungai di perbatasan desa kecil kita bersama teman temanku, aku suka lupa pulang.
Saat teman temanku dihadiahi jeweran, aku hanya kau hadiahi sedikit gelengan kepalamu dan senyum kecil di sudut bibirmu sewaktu engkau menjemput paksa aku.
Pak, aku kangen..!
Aku rindu semua masa kecil dan remajaku bersama hangatmu.
Dan sungguh bukan sebuah drama
Saat tiba-tiba mataku menghangat tanpa kupinta pak
Baik-baik di sana ya pak.. Senantiasa sehat dan panjang usia..
Pak, aku kangen!!!
Tangerang, 30/07/2015
Sabtu, 28 April 2018
~ Makan tuh Cinta! ~
Istilah seperti itu mungkin sudah sering sekali kita dengar.
Entah dalam konteks sedang bergurau atau dalam konteks serius.
Entah kenapa kalimat seperti ini biasanya lebih banyak ditujukan untuk para wanita (para istri)
Kalimat ini sesungguhnya dipakai untuk menggantikan kata sukurin! atau rasain loh! atau kalimat "mengerikan" yang senada dengan itu.
Bisa ditujukan untuk orang yang tidak kita sukai pada saat dari sisi kita sepertinya dia terlihat tidak bahagia karena secara materi terkesan kurang tapi tetap bergeming mempertahankan hubungan bersama pasangannya dengan alasan cinta.
Tapi dalam beberapa kasus, kalimat seperti ini justru terlontar dari orang tua yang ditujukan untuk putrinya yang pada saat memutuskan untuk memilih suaminya dulu sudah diperingatkan bahwa lelaki yang dipilihnya tidak akan bisa membahagiakan karena bukan kategori horang kayah tapi si anak gadis tetap membulatkan tekad memilihnya karena lagi lagi alasan cintrong tapi akhirnya rumah tangga si anak benar tampak tidak berkecukupan seperti harapan sang orang tua.
Miris memang kalau kalimat ini datangnya dari orang tua yang seharusnya selalu melemparkan energi positif dalam bentuk doa doa untuk kebahagiaan sang anak.
Nah, saia hanya mencoba ngemeng dari sisi saia yang hanya remahan intip goreng.
Menurut saia, yang namanya "makan cinta" itu memang benar adanya.
Begini, pada saat kita memang telah berkomitmen untuk saling mencintai, pada saat berada di posisi ekonomi yang katakanlah morat marit, InsyaAllah kita akan tetap mencoba sebisa mungkin untuk tetap bertahan bersama.
Halah, Dot.. Didot! Itu mah cumak teori belaka! realistis dong!
Kan beli beras di warung gak boleh bayar pake cinta!
Terus rumah, motor, listrik, pulsa, SPP anak emang boleh dibayar pake cinta!
Yesss, agree pake banget! itu memang hal hal nyata di depan hidung yang paling mudah dilihat!
Tapi sepanjang masa masa itu kita hadapi berdua dengan tetap teguh saling berpegangan dalam cinta yang sama dan benar benar berserah diri hanya kepada-Nya InsyaAllah semua akan baik-baik saja.
Sorry of the maaf bagi yang berseberangan pendapat sama saia tapi saia katakan semua ini karena saia pernah berada di titik yang lebih berat dari itu dan so far kami masih tetap bertahan dan aku sangat yakin bahwa itu karena kekuatan kami "makan cinta" dan yang pasti karena Dia mendengar doa kita hamba-Nya yang tak pernah menyerah saat diberikan ujian.
So, tetap optimis dan mari makan cinta!
Sabtu, 28 Oktober 2017
~ Usah Engkau Tanya ~
usah engkau bertanya lagi
kapan kita kan menepi
untuk berlabuh
di pelabuhan impian
bukankah samudra itu adalah kita
menjadi buih
menjadi buih
di hamparan air tak bertepi
menjadi ombak
menjadi ombak
yang memecah di tengah lautan
derunya indah bukan
derunya indah bukan
angin darat sesekali angkuh menyapa
membuat debur ombak kita
membuat debur ombak kita
tak lagi berirama
bahkan berulang kali
bahkan berulang kali
badai nyaris memorakporandakan kita
tapi lihatlah
kedua tangan kita masih teguh
tapi lihatlah
kedua tangan kita masih teguh
saling erat menggenggam
sudahlah
nikmati saja syahdu detak jantung kita
yang senantiasa menyatu
nikmati saja syahdu detak jantung kita
yang senantiasa menyatu
dengan deru ombak ini
jika suatu ketika
angin kan mengantar kita ke tepian
membawa kita ke hamparan pasir putih luas
membawa kita ke hamparan pasir putih luas
itulah kemenangan dan kemerdekaan hakiki
usah engkau bertanya lagi
kapan kita kan menepi
Nimas!
kapan kita kan menepi
Nimas!
Balaraja, 25 10 14
Jumat, 14 Juli 2017
~ Reuni Penuh Cinta 280617 ~
pagiku yang indah
sesaat mentari lindap di balik kabut pagi
sejenak..
serupa ia berikanku sebuah tanda
atas sebuah alinea baru
di paragraf yang sedang pelan kueja
dengan sisa cinta
yang masih bersinau di ujung entah
ada riak rasa seperti entah
menyeruak syahdu
jatuh satu satu
seiring embun yang luruh
berganti hangat mentari
di pagi kita yang berhias senyum
ah,
senandung rindu ini demikian merdu
memecah senyap di dasar hati
ini bahagiaku, ini bahagia kita
sahabat..
duapuluhenam warsa yang lalu
kita berada di sini
mengukir berjuta kenangan
yang hingga kini
masih demikian kokoh terpatri
tersimpan di dasar hati
tak usang
meski embus angin demikian kencang
menerbangkan angan
‘tuk kita kembali pulang
Dalam cerita yang sama
duapuluh enam warsa sudah sahabat
kita mohon pamit pergi
dari tempat dimana semua kisah dimulai
mengepakkan sayap-sayap kecil kita
menuju samudra nan luas tak berbatas
dengan segala bentuk riak dan gelombang
membawa rindu
atas segala cerita kita
dan kini, di sini..
atas segala kuasa Sang Maha
kita berada pada riak kerinduan
yang tumpah di akhir penantian
ah, padang pertemuan ini demikian indah
menjawab dahaga atas puncak
dari segala kerinduan ini
serupa indah mimpi kita
pada lelap di penghujung malam
di peraduan kita
yang senantiasa semerbak aroma rindu
rindu yang senantiasa membuncah
menggelisah mengharap takdir tiba
memulai kembali semua kisah
lantang kita eja ia sebagai sebentuk
bahagia...
sahabat..
genap duapuluh enam kali sudah
almanak di dinding kita berganti angka
ratusan purnama telah kita lalui
di dunia kita yang terpisah jarak dan waktu
tapi tidak dengan hati kita
yang masih terbalut cinta yang tetap sama
serupa lembut sapa kita kala itu
kini..
ada hangat yang turut menyeruak
kurasakan lembab di sudut mata kita
namun tak pernah tereja ia
sebagai pilu atau duka yang mendera
ini tangisan bahagia kita sahabat
atas segala tumpah rindu di hati kita
terimakasih sahabat..
terimakasih untuk hari indah ini
terimakasih untuk sejuta keharuan
yang tercipta hari ini
kelak..
kan kita ukir kembali episode baru
dengan aroma cinta kita
yang tetap sama..
Purworejo, 28 Juni 2017
sesaat mentari lindap di balik kabut pagi
sejenak..
serupa ia berikanku sebuah tanda
atas sebuah alinea baru
di paragraf yang sedang pelan kueja
dengan sisa cinta
yang masih bersinau di ujung entah
ada riak rasa seperti entah
menyeruak syahdu
jatuh satu satu
seiring embun yang luruh
berganti hangat mentari
di pagi kita yang berhias senyum
ah,
senandung rindu ini demikian merdu
memecah senyap di dasar hati
ini bahagiaku, ini bahagia kita
sahabat..
duapuluhenam warsa yang lalu
kita berada di sini
mengukir berjuta kenangan
yang hingga kini
masih demikian kokoh terpatri
tersimpan di dasar hati
tak usang
meski embus angin demikian kencang
menerbangkan angan
‘tuk kita kembali pulang
Dalam cerita yang sama
duapuluh enam warsa sudah sahabat
kita mohon pamit pergi
dari tempat dimana semua kisah dimulai
mengepakkan sayap-sayap kecil kita
menuju samudra nan luas tak berbatas
dengan segala bentuk riak dan gelombang
membawa rindu
atas segala cerita kita
dan kini, di sini..
atas segala kuasa Sang Maha
kita berada pada riak kerinduan
yang tumpah di akhir penantian
ah, padang pertemuan ini demikian indah
menjawab dahaga atas puncak
dari segala kerinduan ini
serupa indah mimpi kita
pada lelap di penghujung malam
di peraduan kita
yang senantiasa semerbak aroma rindu
rindu yang senantiasa membuncah
menggelisah mengharap takdir tiba
memulai kembali semua kisah
lantang kita eja ia sebagai sebentuk
bahagia...
sahabat..
genap duapuluh enam kali sudah
almanak di dinding kita berganti angka
ratusan purnama telah kita lalui
di dunia kita yang terpisah jarak dan waktu
tapi tidak dengan hati kita
yang masih terbalut cinta yang tetap sama
serupa lembut sapa kita kala itu
kini..
ada hangat yang turut menyeruak
kurasakan lembab di sudut mata kita
namun tak pernah tereja ia
sebagai pilu atau duka yang mendera
ini tangisan bahagia kita sahabat
atas segala tumpah rindu di hati kita
terimakasih sahabat..
terimakasih untuk hari indah ini
terimakasih untuk sejuta keharuan
yang tercipta hari ini
kelak..
kan kita ukir kembali episode baru
dengan aroma cinta kita
yang tetap sama..
Purworejo, 28 Juni 2017
~ sisa aroma rindu ~
kabut masih berembus
pada sisa shubuh
di pagi kita yang hening
dingin menjilat setiap jengkal pori
di tubuh lelah kita
yang masih berselimut rindu
sejuta cerita masih kusimpan
pada ujung keharuan
di detik-detik peluk hangat engkau
nanar mendera
saat sang waktu melempar jeda
atas sesak rindu yang tumpah
biar..
biar saja kabut pagi ini sirna
saat surya menjilat angkuh
sebentuk dingin
pada embun di pucuk dedaunan
sebab di palung hati kita
tetap ada aroma rindu
yang bersemayam mesra
dalam sahaja..
Tangerang, 01 Juli 2017
pada sisa shubuh
di pagi kita yang hening
dingin menjilat setiap jengkal pori
di tubuh lelah kita
yang masih berselimut rindu
sejuta cerita masih kusimpan
pada ujung keharuan
di detik-detik peluk hangat engkau
nanar mendera
saat sang waktu melempar jeda
atas sesak rindu yang tumpah
biar..
biar saja kabut pagi ini sirna
saat surya menjilat angkuh
sebentuk dingin
pada embun di pucuk dedaunan
sebab di palung hati kita
tetap ada aroma rindu
yang bersemayam mesra
dalam sahaja..
Tangerang, 01 Juli 2017
Jumat, 19 Mei 2017
~ Di Ujung Penantian ~
kabut kian berarak
gelap tak bertepi
kelam tanpa pendar cahaya
tak kuasa lagi kueja ia sebagai halimun
sebab ia adalah badai
yang berembus di sisa lelahku
dalam penantian yang tak berujung
atas cerita kita
yang masih saja tertunda
demikian sulitnya
kugapai engkau
meski telah kucoba
meraih dingin hatimu
pada setiap embus nafasku
yang semakin kerontang
tanpa lembab harapku atas engkau
bilakah engkau singgah
di singgasana hatiku
yang telah kuselimuti
dengan buih cintaku
yang senantiasa beriak
menanti sentuhmu
yayi..
Balaraja, 190517
Langganan:
Postingan (Atom)
~ Di Ujung Lelah ~
tiba di ujung lelah dalam semu senyum atas pemaklumanku pergilah kini ke luas samudra yang engkau pilih tanpa aku di buritan kapalm...
-
Pak, aku kangen...! Jarik ombo yang dulu dipakai menggendongku sambil disambi kemana-mana itu masih ada pak? Pasti warnanya udah njeblug ...
-
Lelakiku.. Jingga di ufuk timur Bersinau-sinau hangat Menembus lembut pagi kita Seiring embun yang berlalu Bersulih angkuhnya Semburat sang ...
-
Ini gegara semalem denger mantan pacar ngobrol sama gengnya -ibu2 komplek- ngomongin rapotan kemarin dan ada yang "curhat" karena ...