Lelakiku..
Jingga di ufuk timur
Bersinau-sinau hangat
Menembus lembut pagi kita
Seiring embun yang berlalu
Bersulih angkuhnya
Semburat sang mentari
Lelakiku..
Engkau masih melangkah
Dari gelanggang ke gelanggang
Dengan aneka penantang
Dalam gamit lenganku
Beriring tanpa bilah
Tak ada lelah
Pun tak tampak payah
Lelakiku..
Telah genap satu windu
Ku menjadi saksi
Tap! tap! tap!
Deru langkah kecilmu
Mantap menapak
Tak serupa langkah dari-dari
Meski bukan juga sebuah langkah tegap
Lelakiku..
Tetaplah melaju
Menuju babak demi babak
Di episode panjang Sang Sutradara
Menikmati setiap bagian adegan-Nya
Lelakiku..
Kelak ku kan tiba
Dalam senyap di ujung letihku
Saat lenganku
Tak lagi kuasa
Menggamit lembut engkau
Tetaplah dalam lajumu
Tap! tap! tap!
Dengan irama yang tetap sama
Lelakiku..
Selamat menapaki windu
Ini windu pertamamu
Tetap dalam balutan cinta
Di langit hati kami
Yang senantiasa sarat
Dengan ronce do’a tanpa jeda
Untukmu, lelakiku..!
Bidara, 05/01/17
Dedicated for :
8th birthday moment
Yusuf Fakhri Az-Zukhruf
Jumat, 06 Januari 2017
Sabtu, 17 Desember 2016
~ Untukmu Sang Penjaga Hati ~
Terjaga dari lelap
Di ujung malam bertabur senyap
Katamu telah belasan kali
Almanak di dinding kamar ini kau sulih
Pada setiap warsa yang berganti
Bukankah belum genap satu purnama
Kita bercengkerama
Melewatkan cahya gemintang bersama
Begitu sukmaku berbisik
Tetaplah di sini wahai
Menikmati savana milik kita
Tanpa perdu dan belukar
Savana bertabur aneka bunga
Berbalut rindu
Laksana kilau nilam
Santun bersemayam
Pada cakrawala kisah kita
Engkau..
Perempuan
Penjaga hatiku
Tigaraksa, 18/12/16
Di ujung malam bertabur senyap
Katamu telah belasan kali
Almanak di dinding kamar ini kau sulih
Pada setiap warsa yang berganti
Bukankah belum genap satu purnama
Kita bercengkerama
Melewatkan cahya gemintang bersama
Begitu sukmaku berbisik
Tetaplah di sini wahai
Menikmati savana milik kita
Tanpa perdu dan belukar
Savana bertabur aneka bunga
Berbalut rindu
Laksana kilau nilam
Santun bersemayam
Pada cakrawala kisah kita
Engkau..
Perempuan
Penjaga hatiku
Tigaraksa, 18/12/16
Inikah "kemajuan"?
Sore hari menjelang maghrib beberapa hari lalu...
Aku sedang berjalan kaki sambil menjaga malaikat kecilku yang berlarian menikmati sore hari
Tanpa sengaja di pertigaan gang menuju "rumah mewahku" yang berdiri di atas tanah entah berapa hektar (pinjem istilah bunda) itu
aku merekam satu pemandangan yang sebenarnya sih tak terlalu istimewa..
Seorang gadis sedang duduk sambil bersandar di pundak gadis lain yang sepertinya sahabatnya.
Sepertinya dia sedang terluka hatinya karena aku lihat ada air mata yang berlinang di pipinya..
Si sahabat kulihat mengelus2 bahu si gadis berusaha membuatnya lebih tenang..
Sementara di depannya berdiri seorang pemuda dengan tegapnya dengan expresi muka yang sepertinya gusar..
Beberapa patah kata pelan layaknya sebuah negosiasi keluar dari ketiga pemuda pemudi itu...
Tak berapa lama kemudian, si gadis berdiri tersentak dan berbicara setengah berteriak ke arah si pemuda..
"Ok, fine...!! kalo emang itu yang lo mau, gw putus dari dia sekarang...!!! Puaaass???!!!"
Beberapa detik kemudian, si gadis menggandeng (baca : menyeret paksa) sahabat yang di sampingnya..
Mereka berdua berjalan -tepatnya berlari- menjauh dari si pemuda yang sepertinya berusaha masih ingin menjelaskan sesuatu..
Tapi tak ada lagi kesempatan buat si pemuda berkata apapun karena dua gadis itu telah semakin berlari menjauh..
Dan tinggal aku yang tak bisa berkata apa-apa menyaksikan adegan di depanku yang begitu cepatnya itu..
Sambil masih tetap menggandeng "pemuda"ku aku berjalan pulang karena Maghrib segera tiba..
Sebenarnya apa yang kusaksikan itu adalah sesuatu yang sangat biasa dan tak ada yang istimewa..
Tapi yang kemudian terus menggelitikku karena "para pemeran kisah nyata" itu adalah pemuda dan gadis-gadis kecil seumuran anak pertamaku..
Aku sangat yakin kedua gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar, kira-kira kelas 5 atau kelas 6...
Lalu si pemuda gusar itu sepetinya baru kelas 6 atau kalaupun sudah SLTP mungkin baru duduk di kelas 7
Duh... inikah kemajuan? Inikah modernisasi?
Seingatku dulu ketika aku seumuran mereka bertiga,
Kalaupun harus bertengkar, biasanya karena berebut mobil-mobilan atau layangan..
Atau ada yang berlaku curang saat bermain petak umpet atau gobag sodor...
Sahabat-sahabat hati...
Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikit membuka cakrawala kita semua bahwa sepertinya ada yang salah menyikapi modernisasi ini..
Dan marilah kita semua jaga malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari kecil kita..
Agar bertumbuh sesuai dengan usianya
Meskipun modernisasi dan kemajuan jaman harus tetap ada..
Tangerang, 13 Oktober2012
#memandang gadis kecilku yang sedang terlelap#
Aku sedang berjalan kaki sambil menjaga malaikat kecilku yang berlarian menikmati sore hari
Tanpa sengaja di pertigaan gang menuju "rumah mewahku" yang berdiri di atas tanah entah berapa hektar (pinjem istilah bunda) itu
aku merekam satu pemandangan yang sebenarnya sih tak terlalu istimewa..
Seorang gadis sedang duduk sambil bersandar di pundak gadis lain yang sepertinya sahabatnya.
Sepertinya dia sedang terluka hatinya karena aku lihat ada air mata yang berlinang di pipinya..
Si sahabat kulihat mengelus2 bahu si gadis berusaha membuatnya lebih tenang..
Sementara di depannya berdiri seorang pemuda dengan tegapnya dengan expresi muka yang sepertinya gusar..
Beberapa patah kata pelan layaknya sebuah negosiasi keluar dari ketiga pemuda pemudi itu...
Tak berapa lama kemudian, si gadis berdiri tersentak dan berbicara setengah berteriak ke arah si pemuda..
"Ok, fine...!! kalo emang itu yang lo mau, gw putus dari dia sekarang...!!! Puaaass???!!!"
Beberapa detik kemudian, si gadis menggandeng (baca : menyeret paksa) sahabat yang di sampingnya..
Mereka berdua berjalan -tepatnya berlari- menjauh dari si pemuda yang sepertinya berusaha masih ingin menjelaskan sesuatu..
Tapi tak ada lagi kesempatan buat si pemuda berkata apapun karena dua gadis itu telah semakin berlari menjauh..
Dan tinggal aku yang tak bisa berkata apa-apa menyaksikan adegan di depanku yang begitu cepatnya itu..
Sambil masih tetap menggandeng "pemuda"ku aku berjalan pulang karena Maghrib segera tiba..
Sebenarnya apa yang kusaksikan itu adalah sesuatu yang sangat biasa dan tak ada yang istimewa..
Tapi yang kemudian terus menggelitikku karena "para pemeran kisah nyata" itu adalah pemuda dan gadis-gadis kecil seumuran anak pertamaku..
Aku sangat yakin kedua gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar, kira-kira kelas 5 atau kelas 6...
Lalu si pemuda gusar itu sepetinya baru kelas 6 atau kalaupun sudah SLTP mungkin baru duduk di kelas 7
Duh... inikah kemajuan? Inikah modernisasi?
Seingatku dulu ketika aku seumuran mereka bertiga,
Kalaupun harus bertengkar, biasanya karena berebut mobil-mobilan atau layangan..
Atau ada yang berlaku curang saat bermain petak umpet atau gobag sodor...
Sahabat-sahabat hati...
Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikit membuka cakrawala kita semua bahwa sepertinya ada yang salah menyikapi modernisasi ini..
Dan marilah kita semua jaga malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari kecil kita..
Agar bertumbuh sesuai dengan usianya
Meskipun modernisasi dan kemajuan jaman harus tetap ada..
Tangerang, 13 Oktober2012
#memandang gadis kecilku yang sedang terlelap#
Tarawihku, "Tamparan"-ku
Dua hari lalu kusempatkan pulang kantor lebih awal karena
beberapa hari tidak menunaikan shalat tarawih berjama’ah sepertinya
membuatku merasa menjadi “budak” dari segala bentuk rutinitas melelahkan
di kantor.
Entah mengapa, malam itu rasanya benar-benar menggebu sekali keinginan untuk bisa shalat tarawih berjama’ah di musholla sederhana di depan rumahku
Ternyata setelah kurenungkan, mungkin menggebunya niatku itu adalah salah satu jalan-Nya untuk “menampar keras” atas kesombonganku selama ini.
Singkat cerita, tibalah aku di musholla kecil di depan rumahku itu dan segera membaur dengan jama’ah yang lain.
Semua terasa biasa saja, tak ada yang istimewa.
Aku berada di shaf ketiga dari empat shaf yang ada.
Raka’at demi raka’at kulalui dengan berusaha sekhusyu’ mungkin meski sesekali terdengar jerit anak-anak balita yang belum faham makna shalat yang sebenarnya.
Tapi setelah beberapa raka’at berlalu, seperti ada yang ganjil dengan jama’ah yang berada di samping kiriku karena sekilas kulirik entah kenapa sepertinya dia tidak bisa melakukan gerakan-gerakan shalat dengan sempurna.
Sesekali kakiku terasa tertindih saat gerakan duduk, sikutnya yang selalu mendorong kecil bagian tubuh kiriku saat gerakan sujud dan yang paling mencolok kulihat adalah sepertinya dia selalu ketinggalan beberapa saat dibanding jama’ah yang lain saat mengikuti gerakan-gerakan shalat sang imam.
Tibalah di akhir shalat tarawih menuju witir 3 raka’at dan tradisi di musholla kami adalah jeda waktu antara tarawih dengan witir akan diisi dengan kultum dari penceramah yang bergiliran memberikan tausiahnya.
Waktu itu kupergunakan untuk mengobati penasaranku dengan jama’ah di samping kiriku itu.
Dan seketika aku kaget bercampur sedih juga haru karena ternyata dia boleh dibilang seseorang yang berkebutuhan khusus.
Maaf – kaki kanannya ternyata tidak sempurna, begitu juga dengan kedua lengannya yang sedikit bengkok menyulitkannya untuk bersedekap dengan sempurna, dan sepertinya saraf leher atau semacamnya juga terganggu, terlihat dari sulitnya dia mengendalikan gerakan kepalanya dan sepertinya selalu bergerak ke arah tengadah tak beraturan.
Mungkin bisa digambarkan seperti –maaf lagi- penderita idiot atau keterbelakangan mental.
Subhanallah….
Tanpa terasa aku lemas seperti hilang tenaga untuk kemudian mataku mulai berkaca-kaca.
Aku merasa betapa sombongnya aku selama ini.
Dengan kondisiku yang diberikan fisik yang sangat sempurna oleh-Nya tapi terkadang bahkan tak ingat hanya untuk sekedar mengucap kata syukur atas segala nikmat ini.
Shalat yang kadang sengaja di akhir waktu, bahkan beberapa terlewat karena berbagai alasan yang kubuat sendiri sebagai pemakluman atas kebodohan yang kubuat.
Sementara si “jama’ah special” di sampingku itu dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tetap semangat menyelesaikan seluruh raka’at Isya’ dan tarawih yang terkadang untuk kita yang sempurna saja terasa cukup berat.
Dan tarawihku malam itu sungguh tarawih yang sangat berkesan di antara ratusan shalat tarawih yang pernah kulakukan di sepanjang hidupku.
Sahabat sahabat hati, sengaja kubagi pengalaman kecil ini dengan satu niat tulus, semoga ini bisa bermanfaat untuk kita semua yang terkadang selalu melihat bahwa kita dalam kesulitan, tapi jarang merasa bahwa jauh lebih banyak orang yang lebih sulit daripada kita…
Di akhir kata, semoga kita semua senantiasa termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur..
Amin..
Bidara Village, 25/07/13
Entah mengapa, malam itu rasanya benar-benar menggebu sekali keinginan untuk bisa shalat tarawih berjama’ah di musholla sederhana di depan rumahku
Ternyata setelah kurenungkan, mungkin menggebunya niatku itu adalah salah satu jalan-Nya untuk “menampar keras” atas kesombonganku selama ini.
Singkat cerita, tibalah aku di musholla kecil di depan rumahku itu dan segera membaur dengan jama’ah yang lain.
Semua terasa biasa saja, tak ada yang istimewa.
Aku berada di shaf ketiga dari empat shaf yang ada.
Raka’at demi raka’at kulalui dengan berusaha sekhusyu’ mungkin meski sesekali terdengar jerit anak-anak balita yang belum faham makna shalat yang sebenarnya.
Tapi setelah beberapa raka’at berlalu, seperti ada yang ganjil dengan jama’ah yang berada di samping kiriku karena sekilas kulirik entah kenapa sepertinya dia tidak bisa melakukan gerakan-gerakan shalat dengan sempurna.
Sesekali kakiku terasa tertindih saat gerakan duduk, sikutnya yang selalu mendorong kecil bagian tubuh kiriku saat gerakan sujud dan yang paling mencolok kulihat adalah sepertinya dia selalu ketinggalan beberapa saat dibanding jama’ah yang lain saat mengikuti gerakan-gerakan shalat sang imam.
Tibalah di akhir shalat tarawih menuju witir 3 raka’at dan tradisi di musholla kami adalah jeda waktu antara tarawih dengan witir akan diisi dengan kultum dari penceramah yang bergiliran memberikan tausiahnya.
Waktu itu kupergunakan untuk mengobati penasaranku dengan jama’ah di samping kiriku itu.
Dan seketika aku kaget bercampur sedih juga haru karena ternyata dia boleh dibilang seseorang yang berkebutuhan khusus.
Maaf – kaki kanannya ternyata tidak sempurna, begitu juga dengan kedua lengannya yang sedikit bengkok menyulitkannya untuk bersedekap dengan sempurna, dan sepertinya saraf leher atau semacamnya juga terganggu, terlihat dari sulitnya dia mengendalikan gerakan kepalanya dan sepertinya selalu bergerak ke arah tengadah tak beraturan.
Mungkin bisa digambarkan seperti –maaf lagi- penderita idiot atau keterbelakangan mental.
Subhanallah….
Tanpa terasa aku lemas seperti hilang tenaga untuk kemudian mataku mulai berkaca-kaca.
Aku merasa betapa sombongnya aku selama ini.
Dengan kondisiku yang diberikan fisik yang sangat sempurna oleh-Nya tapi terkadang bahkan tak ingat hanya untuk sekedar mengucap kata syukur atas segala nikmat ini.
Shalat yang kadang sengaja di akhir waktu, bahkan beberapa terlewat karena berbagai alasan yang kubuat sendiri sebagai pemakluman atas kebodohan yang kubuat.
Sementara si “jama’ah special” di sampingku itu dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tetap semangat menyelesaikan seluruh raka’at Isya’ dan tarawih yang terkadang untuk kita yang sempurna saja terasa cukup berat.
Dan tarawihku malam itu sungguh tarawih yang sangat berkesan di antara ratusan shalat tarawih yang pernah kulakukan di sepanjang hidupku.
Sahabat sahabat hati, sengaja kubagi pengalaman kecil ini dengan satu niat tulus, semoga ini bisa bermanfaat untuk kita semua yang terkadang selalu melihat bahwa kita dalam kesulitan, tapi jarang merasa bahwa jauh lebih banyak orang yang lebih sulit daripada kita…
Di akhir kata, semoga kita semua senantiasa termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur..
Amin..
Bidara Village, 25/07/13
MENIKMATI SEBUAH PERJALANAN BIROKRASI (PART 1)
Kuawali tulisan yang jauh dari kata keren ini dengan satu niat berbagi saja tanpa ada niat seujung upilpun -bahkan upil semut sekalipun- untuk mendiskreditkan pihak manapun.
Anggaplah ini hanya sebentuk “surat tidak sakti” dari seseorang di level kasta sudra plus plus alias rakyat jelata yang lebih banyak hanya bisa mingkem sepanjang jaman demi menyaksikan apa yang disebut dengan ketidaksesuaian yang terjadi di negeri tercinta ini.
Satu hal lagi, kalau barangkali tulisan ini terbaca sama yang suka (pura-pura menggiring opini) bahwa di Indonesia tercinta ini sudah “bersih” koq, sudah gak ada pungli koq, para punggawa/punggawi pelayan masyarakat udah jujur semua koq… Hey.. hey.. hey… talk to my hand beibeh…!!!!
Tulisan acakadut binti amburadul ini benar-benar bersumber dari cerita asli yang terjadi pada dalangnya langsung, tentu dengan bumbu-bumbu penyedap lebay gak penting yang dijamin semakin menghancurkan cerita melankolis nan gemah ripah loh jinawi ini..
Dan cerita cerita lebih gak penting seperti suasana saat dikedipin syahdu sama mbak-mbak potokopian atau betapa serunya pas lagi minum es cendol saking nikmatnya terus sendoknya sampe ikut ketelen, itu semua gak ada di mari lho ya, demi kesejahteraan bersama, semua udah diedit dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..
Yang pastinya, tidak ada yang ditutupi sama sang dalang karena gak ada embel-embel pencitraan di mari.. Jadi, ya apa adanya aja..
Masalah penilaian itu baek ato kaga, ya monggo monggo sajah terserah pemirsah...
Yuhuuuuu….!! Cekidot guys……!! Yuuuukkkk mareeee…!!!
*******************************************************
Bro/Sist… nanya buleh dunk? Ada yang pernah ngurus benda berharga nan multiguna sepanjang masa yang berjudul KTP? Nah di negeri kitah tercintah benda ini biasanya susah move on lho dengan pasangan setianya yang bergelar KK alias Kartu Keluarga.
Jadiiiiii… biasanya kalo lagi ngurus KK, ya KTP ngikut diurus, begitu juga sebaliknya. Nah, biasanya lagi nih….biasanya lho yaaa… orang-orang yang sudah ribet dengan aktivitas ngupoyo upo alias job rutin sehari-hari (so pasti including me) itu kan suka rada rada say no kalo suruh antri-antri, panas-panas, jalan dari kantor anu ke kantor onoh, dari kantor onoh ke kantor itu dan ini dan itu onoh anu yang lain yang sudah barang tentu dianggap ribet seribet ribetnya umat.
Terus gimana dong sol of the lusi-nya..
Mari kita simak segmen Tips dan solusi hari ini…!!
Jiakakakakakakkkkkkkk * ngakak bengis *
Pertama, Silakan colek pundak bapak “baik banget” yang sudah berpengalaman “membantu” urus beginian, biasanya sih sehari-hari tetep bertugas sebagai pegawai kantor anu..
Kedua, ngobrol basa-basi dikit sekedar nanya semalem bobo jam berapa atau sukanya nonton naruto atau iron man, ya jelas gak guna juga sih, lha piyeee, namanya juga basa basi…
Ketiga, di akhir basa basi, pasang tampang nyengir dikit dan katakan maksud kedatangan kita kemudian tanpa basi basa monggo dilanjut nego tarip kalo short time berapa, kalo long time berapa…
Wakakakakakakaakkkkk.
Keempat, Taaraaaaaaaaaa!!!!!! Beberapa hari kemudian, KTP dan KK yang diinginkan sudah berada di dompet.
Sesimple ituh sih pak/bu…!! * dehem dua kali *
***************************************************************************************
Nah untuk edisi kali ini, from the bottom of my heart (ciyeeee…) aku memang sudah nawaitu se nawaitu nawaitunya untuk mencoba nyemplung dari A sampai Z ngurus benda keramat ini sampai tuntas.
Selain “lari” sesaat dari rutinitas kantor plus cuti tahun lalu yang masih tersisa segrobak mie ayam dalam waiting list minta dihabiskan, ya itung-itung ngepoin ibu pertiwi about birokrasi di negeri tercinta ini sudah sampai level apa (criminal case kali ah!!).
Secara biasanya terima beres aja, meski I know it’s wrong, tapi ya piye jal? Simbiosis mutualisme gitu dweehh….!! Uhuk!!
Akhirnya dengan semangat membara kuajukan cuti sama pak juragan selama dua hari dengan harapan dalam dua hari itu bisa selesai, at least setengah perjalanan lah..
Hari pertama,
Sowan pak RT di tempat mangkal yang lama, gak jauh sih, paling 45 atau 48 menit perjalanan darat.. Hahahaha…
Sampai sana, rumah kosong karena pak RT lagi kerja ternyata.
Menurut putranya pulangnya sore menjelang maghrib. Ya sudah lah, daripada berubah jadi abu gosok saking kering nunggu pak RT sampe maghrib akhirnya lanjut jelong-jelong aja, sekali-kali lunch di Singapore lah, secara udah niat cuti kan?
*tepok dada pake tampang norak tapi sombong*
Pulang lunch langsung balik ke rumah dulu menikmati mentari siang bolong nan terang benderang.
________________________________________________________________
Pak RT ini sebenarnya dulu kawan akrab yang asik waktu di pangkalan lama, temen main gaple di pos ronda sampe pagi. You know lah, komunitas bapak-bapak rumpi di komplek… Hahahaa..!
Tapi berhubung sudah 4 tahunan jarang contact, ya sudah nomor doi raib entah kemana dan gak bisa deh bikin appointment dulu makanya sok PD aja langsung mak bedunduk ke rumah dosqi karena setahuku dulu kerjanya kena shift jadi peluang bisa ketemunya masih 1:2 lah..
Lha terus kenapa baru urus surat pindah setelah 4 tahun pindah domisili?
Gini ya gan…!
Duluuuuuu itu pas pindah ke mari nih, ke gubug derita yang sekarang nih… ane sekeluarga tuh baruuuuuu aja bikin KTP dan KK yang masa berlakunya masih sampe 2015 ini, nah kalo dulu langsung urus surat pindah, hello apa kabar dengan 5 unit Lamborghini guweeee…
Ada Veneno, Veneno Roadster, Egoista, Sesto Elemento, Aventador J…
*kemudian terbangun dari mimpi dan memeluk erat sepeda kumbang butut warisan papi* - Halagh!! -
Musti balik nama semua kan gan… dan pake fulus lumayan gede kan? Nah (waktu itu) tabungan ane baru 9 digit, belum 12 digit seperti sekarang…
*ngakak lagi sambil tepok dada gorilla sekampung*
So, niat itu belum masuk skala prioritas, makanya selama 4 tahun itu, secara administrasi masih dicatet sebagai warga sono, tapi makan tidur udah di mari, begonoh pemirsah…
Yes! Lagi-lagi I know that it’s wrong, tapi setidaknya ane urus surat pindah sebelum KTP expired lah… Susah kan kalo udah bicara about betapa beratnya itu di financial..
*alasan klasik*
Wakakakkkk..
_______________________________________________________________
Lanjut lagi cuy...
Sore hari selepas maghrib kunjungan kenegaraan ke pak RT di alamat lama ini dilanjut kembali.
Singkat cerita, setelah basa basi ampe basi beneran, ngakak bareng, temu kangen dan ngobrol ngalor ngidul bla bla bla sampai tukeran nomor HP dan berjanji akan selalu setia saling save nomor HP (NahLoh!!)… di ujuuuunngggg cerita banget baru deh tuh yang namanya surat pengantar pengurusan pindah alamat selesai. Yach paling 5 menit 10 detik selesai, tapi ngobrol pembukaannya itu loohhh ampe berbusa-busa. Hadweeeehhh…!!!
Selesai urusan kenegaraan di pak RT itu, dengan nyengir maksimal kugoda ia dengan sok tanya berapa biaya administrasinya?
Hanya ngakak tak terbendung yang keluar dari mulut pak RT ini sambil dilemparnya aku pake bantal kursi. Intinya di level pertama ini adalah FREE CHARGE.
Setelah aku diusirnya pergi karena mungkin udah gak tahan liat muka ganteng guwe, selanjutnya kulangkahkan kaki dengan gontai menuju ke pak RW -yang hanya beda beberapa blok saja dari pak RT- untuk meminta tanda tangan dan stempel pengesahan dari RW.
Dan di level kedua ini (lagi-lagi) tetap FREE CHARGE.
Hari kedua,
Jam 9.15 pagi kudatangi kantor kelurahan di alamat lama. Kesan pertama di Kantor kelurahan tampak luar, OK lah untuk ukuran level kelurahan. Poin 1 – 10, masih di 8 lah. Masuk ke dalam, suasana layaknya kantor pelayanan masyarakat, wajar dan lumayan rapi.
Kantor cukup bersih, beberapa loket yang dipisah untuk beberapa jenis layanan, data-data kelurahan tentang jumlah penduduk, peta batas wilayah dan sebagainya terpampang lengkap di papan dengan data yang update terbaru.
AC ada 1 unit tapi tidak berfungsi (entah rusak atau memang sengaja dimatikan).
Ada 3 orang pegawai yang terlihat di loket pelayanan, 2 pria dan 1 wanita. Beberapa orang yang datang lebih dulu dariku, terlihat sudah duduk di kursi tunggu.
Kuserahkan berkas-berkas persyaratanku kepada seorang pegawai perempuan di loket layanan KTP+KK (namanya sih kucatat, tapi tidak akan ku-expose ah. Sebut saja Mawar, 17 tahun.. Wkwkwkwkkkkkk) yang pakaian seragam rapi layaknya pegawai pemerintahan, berhijab lengkap tapi sayang kakinya bersendal jepit.
Usut punya usut ternyata setelah diperhatikan para pegawai di kantor kelurahan itu memang bersendal jepit di dalam kantor. Ooohh.. okay…!!
Meski langsung rada ilfil, secara aku aja mencoba menghargai diri sendiri dengan bersepatu saat masuk ke kantor resmi ini, tapi ya coba positif thinking aja, mungkin sepatunya pas hari itu secara massal sedang dicuci. Uhuk!!.
D : “Pagi bu, mau urus surat pindah”
M : (muka gak ramah, sambil membolak-balik berkas) “Ada surat pengantar dari RT gak nih?”.
“Oh, iya ada nih..”, eh.. doi jawab sendiri…!! Hahahaha…
Sampai di sini nih guys, yang kudengar dari kesaksian salah satu tetangga yang mengurus ginian sebelum aku dan kebetulan dia gak ketemu-ketemu sama RT dan nyoba langsung datang ke kantor kelurahan, kalo di level kelurahan ini tidak ada pengantar dari RT, biasanya mereka bisa “usahakan” instant lho… ya tentu dengan “harga khusus” lah… *simbiosis mutualisme*
D : “Jadi gimana nih bu? Ada lagi yang harus dilengkapi?”
M : “Duduk aja dulu pak, tunggu”
± 25 menit, 14 detik kemudian…
M : “Pak Didik Winarko..”
(wuih! dia tau nama lengkapku yak??!! Jangan-jangan doi naksir… wkwkwk)
D : “Ya bu…” (menghampiri loket dengan riang gembira)
M : “Ini pak, udah beres!! Tanda tangan di sini, sini dan sini sebelum ke kecamatan”
(nunjuk beberapa kolom yang harus kububuhkan tanda tangan)
D : (kuperiksa ulang sejenak sekedar memastikan datanya tidak ada yang salah tulis)
“OK bu, terimakasih ya bu”
(kumasukkan berkas ke dalam tas sambil bersiap pergi sambil menunggu responnya)
M : “Pak, biaya administrasinya 50.000,-!!“ (Spontan seolah khawatir aku keburu kabur)
D : (dalem ati : “yess!! Start the game”) “Oh, maaf bu, saya tidak tahu”..
Dan “transaksi” pelayanan ini ditutup dengan penyerahan selembar rupiah berwarna biru itu. Dan yang perlu dibold-italic-underline ya, tuh fulus kusaksikan dengan mata kepalaku digenggam dengan cepat dan (dengan terampil) langsung masuk ke kantong seragamnya sambil pura-pura sibuk membereskan berkas-berkas di meja.
I call it "wow" dengan ketrampilan tangannya... Wkwkwk..!
Oiya, si goban yang jadi “uang administrasi” ini sama sekali tidak ada kuitansi, tanda terima, tanda terimakasih or something like that lho…
Jadi silakan diasumsikan sendiri ya guys…!!! (garuk2 jidat for positif thinking : oh, mungkin bakal beli terompah cuy.. ya kaleeeeee!!!! biar kalo sendal putus, bisa ganti terompah aje yang awet.. uhuuuyyy!!)
***************************************************************************************
Selesai di kelurahan, langsung menuju kantor kecamatan.
Sampai kantor kecamatan kira-kira pukul 10.15 WIB dan antrian sudah agak berjubel.
Oiya, suasana kantor sih keren ya, baik tampak luar maupun tampak dalam, semua atribut layaknya kantor kecamatan semua lengkap. Peta wilayah, jenis layanan, prosedur layanan dan nganu nganu yang lain semua lengkap secara visual.
Satu orang pegawai wanita di loket pengurusan KTP & KK dan beberapa anak berjas almamater yang sepertinya sedang praktek kerja berada di loket pelayanan yang sederet dengan ibu pegawai itu.
Tapi di kantor ini ada beberapa yang mengganjal dan bikin merepet
misalnya :
Ada tulisan “Terimakasih tidak merokok di ruangan ini” di beberapa titik, tapiiiiiiiiiiiiiiiii… Masyarakat yang sedang antri sih kulihat tak ada yang merokok, (Cuma) beberapa orang pegawai berseragam yang berada di sepanjang belakang meja loket koq malah di tangannya berhias rokok yang menyala di tangan yaa..
ooohh.. mungkin tulisannya tidak terbaca dari belakang sana ya…. Lagian, yang nempel tulisannya juga sih, kurang gede..!! hahhahaha…
Ada petunjuk bahwa kantor ini melayani dengan PATEN aka Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan tapi area meja pelayanan yang berada di belakang loket yang dibuat memanjang itu koq hanya berisi meja-meja kosong yang berderet dengan unit-unit komputer yang entah dalam kondisi on atau off karena layar menghadap ke tembok belakang sana.
Dan as for me only ini aneh..
Kantor yang segede alaihim gambreng ini hanya ada satu pegawai di front office dan “teman”nya (cuma) beberapa anak-anak PKL itu.. Wtf!!
Ada spanduk gedeeeeeee banget dengan tulisan menyala : Anda akan mendapatkan 5S salam, senyum, sapa, sopan dan santun tapiiiiiiiiiiiiiiiiii… ibu yang melayaninya..?? uhuk!!!!
Cekidot!!
Me : “pagi bu, maaf untuk pelayanan pindah domisili apa benar di sini?”
Her : (muka datar ngelirik 2.5 detik) “Iya, taruh aja situ pak!”
(Oooh,,, okay!! Mungkin dia lupa untuk senyum atau mungkin dia lelah… wkwkwkk)
Abis itu dengan gontai kulangkahkan kaki mungilku ini menuju kursi tunggu… oiya, kursi tunggunya keren koq. Standard dan terlihat masih cling berkinclong… halagh!! Dan ternyata ada cewek imut di bawah dualima nan menggoda iman (yang sama sekali gak ngelirik gw juga sih..) di deretan kursi cling itu sodara-sodara… tuh kaaannn… bikin gagal fokus dweh!!
Lha terusssssssss kembali ke laptop : salam, senyum sapanya mana woooeeyyy!!!!
*tepok jidat marmut*
1.5 jam kemudian..
Her : “Pak Didik” (wah, doi gak sebut nama lengkap guwe!! Belum tahu kali siapa guwe!! Wkwkwk)
Me : (lari tergopoh-gopoh) “Iya bu, saya”
Her : (masih mahal senyum, sambil bolak balik berkas-berkasku) “Ini mau pindah kemana?, oohh… ke T*******a (Ups!! Guwe belom jawab keleus…!! Uhuuyy!!)
“Lho!! Ini kok Nomor Induknya gak keluar?”,
(nanya ma siape bu? Kalo sama ai, mana ai tahu.. tempe aje ai nikmati tiap ari... ai kan cumak rakyat jelata… *peluk beruang kutub*)
“Sebentar… sebentar.. biar dicek dulu, tunggu dulu aja pak, ntar dipanggil lagi”
Bayangkan saudara dan saudari, lelahnya perjalanan guwe dari kursi tunggu ke loket itu sia-sia bukan? Harusnya sebelum manggil nama keren ini, lha mbok ya dicek dulu sampai lengkap.. kap.. kap… kap..!!
12 menit, 34 detik kemudian…
Her : “Pak Didik” (Yaelaahhh.. dia sebut nama guwe lagi deh..)
Me : (melangkah lesu karena menjelang jam 12 dan tadi baru sarapan roti seharga IDR. 7500)
Her : “Ini foto kopi dulu satu-satu terus ntar bawa balik sini lagi”
Me : “Oh, baik bu… tempat foto kopi di mana bu?”
Her : “Depan!!” (sambil nunjuk arah depan kantor)
Yasssalaaaammmmm… ramah nian ibu cantik jelita ini!! Grrhhhhhh…!!
Singkat cerita, kukembali ke hadapan singgasana ibu ini dan kuserahkan semua berkas.
Her : “Ini masih satu Kabupaten jadi tidak harus ke catatan sipil, langsung ke RT/RW yang dituju saja”
Me : “Baik bu, terimakasih” (balik kanan, siap caooo!!)
Her : “Biayanya 20.000 pak!”.
Omaigat..!!
I’m forget something!!
Ini kan negeri non free charge!!
To be continued....
Tangerang, 30/10/15
Tangerang, 30/10/15
Kupat Tahu Ala Didik
Lebaran dan ketupat adalah dua hal yang tak terpisahkan,
meskipun untuk beberapa daerah ketupat ini tidak “wajib” ada di meja
makan pada hari lebaran dan juga ada beberapa daerah yang memiliki
tradisi kupatan dimana ketupat disajikan bukan pas hari H Idul Fitri,
tapi pada hari ketujuh Syawal.
Nah, biasanya kita sudah cukup ‘eneg’ dengan hidangan serba santan dari teman-teman si ketupat ini.
Opor ayam, sayur labu, rendang dan juga masakan lain serba santan khas lebaran. Barangkali ada yang butuh sesuatu yang agak beda, aku mencoba ber-eksperimen dengan memanfaatkan ketupat tapi dihidangkan tanpa si serba santan ini.
Nah, biasanya kita sudah cukup ‘eneg’ dengan hidangan serba santan dari teman-teman si ketupat ini.
Opor ayam, sayur labu, rendang dan juga masakan lain serba santan khas lebaran. Barangkali ada yang butuh sesuatu yang agak beda, aku mencoba ber-eksperimen dengan memanfaatkan ketupat tapi dihidangkan tanpa si serba santan ini.
KUPAT
TAHU...
Ya… Di daerah Magelang, Purworejo, Wonosobo, Jogja dan sekitarnya hidangan ini sudah tidak asing lagi, tapi mungkin untuk beberapa daerah lain ada yang belum pernah mendengar nama hidangan ini.
Bahan-bahan yang sederhana dan rasanya yang pedas, manis, segar cocok untuk ‘lidah jawa’, apalagi di momen lebaran yang dari segala penjuru sudah diserang dengan masakan berkolesterol tinggi.
Di bawah ini Didot coba berbagi resep sederhananya (untuk 5 porsi) :
BAHAN-BAHAN :
- Ketupat (bisa diganti dengan lontong) - 5 buah
- Tahu (lebih cocok tahu coklat) - 10 buah
- Daun Kol - ¼ kg
- Tauge (jika suka) - ¼ kg
- Daun Seledri - 2-3 batang (sesuai selera)
- Bawang goreng - sesuai selera
- Bawang putih - 5 siung
- Cabe - sesuai selera
BAHAN-BAHAN KUAH :
- Gula Merah - ¼ kg
- Daun Salam - 5 lembar
- Lengkuas (dikeprek) - 1 buah
- Garam - 1 sendok makan
- Air - +/- 2 gelas
CARA PENYAJIAN :
1. Untuk kuah siram, semua bahan dimasak di atas api sedang sampai mendidih dan sedikit mengental (kira-kira air tinggal ¾ bagian)
2. Tahu dipotong dadu (kotak) dan digoreng sampai berwarna kecoklatan (lebih kering lebih enak pada saat tersiram kuah)
3. Kol, daun seledri diiris kecil-kecil, tauge disiram dengan air panas saja agar tidak terlalu matang
4. Cabe dan bawang putih diuleg pelan dan tidak terlalu hancur, langsung di piring saji agar aroma bawang putih terjaga
5. Masukkan ketupat (lontong) yang telah dipotong, tambahkan dengan tahu yang telah digoreng, tumpukkan irisan daun kol, daun seledri, tauge dan taburkan bawang goreng secukupnya.
6. Tuangkan kuah siram di atasnya
7. Kupat tahu nan segar siap dihidangkan
SELAMAT MENCOBA…
Tangerang, 30/07/14

Ya… Di daerah Magelang, Purworejo, Wonosobo, Jogja dan sekitarnya hidangan ini sudah tidak asing lagi, tapi mungkin untuk beberapa daerah lain ada yang belum pernah mendengar nama hidangan ini.
Bahan-bahan yang sederhana dan rasanya yang pedas, manis, segar cocok untuk ‘lidah jawa’, apalagi di momen lebaran yang dari segala penjuru sudah diserang dengan masakan berkolesterol tinggi.
Di bawah ini Didot coba berbagi resep sederhananya (untuk 5 porsi) :
BAHAN-BAHAN :
- Ketupat (bisa diganti dengan lontong) - 5 buah
- Tahu (lebih cocok tahu coklat) - 10 buah
- Daun Kol
- Tauge (jika suka)
- Daun Seledri
- Bawang goreng
- Bawang putih
- Cabe
BAHAN-BAHAN KUAH :
- Gula Merah
- Daun Salam
- Lengkuas (dikeprek)
- Garam
- Air
CARA PENYAJIAN :
1. Untuk kuah siram, semua bahan dimasak di atas api sedang sampai mendidih dan sedikit mengental (kira-kira air tinggal ¾ bagian)
2. Tahu dipotong dadu (kotak) dan digoreng sampai berwarna kecoklatan (lebih kering lebih enak pada saat tersiram kuah)
3. Kol, daun seledri diiris kecil-kecil, tauge disiram dengan air panas saja agar tidak terlalu matang
4. Cabe dan bawang putih diuleg pelan dan tidak terlalu hancur, langsung di piring saji agar aroma bawang putih terjaga
5. Masukkan ketupat (lontong) yang telah dipotong, tambahkan dengan tahu yang telah digoreng, tumpukkan irisan daun kol, daun seledri, tauge dan taburkan bawang goreng secukupnya.
6. Tuangkan kuah siram di atasnya
7. Kupat tahu nan segar siap dihidangkan
SELAMAT MENCOBA…
Tangerang, 30/07/14

~ Selasa Merah ~
Demi Selasa yang merah
Kulihat ada bias bias amarah
Berpagut dalam kecewa yang menggelisah
Meski embun pagi masih bertabur
Kulihat ada bias bias amarah
Berpagut dalam kecewa yang menggelisah
Meski embun pagi masih bertabur
Menabuh rerumputan di sela rona fajar yang masih menjingga
Ah, ini hanya sebuah amarah
Biar kusambut dengan seutas sisa senyum ini
Biar kubelai cula yang semakin meruncing
Kunikmati saja Selasa ini
Meski masih terasa merah
Membara...
Balaraja, 02 April 2013
*Menyambut Selasa yang merah*
Ah, ini hanya sebuah amarah
Biar kusambut dengan seutas sisa senyum ini
Biar kubelai cula yang semakin meruncing
Kunikmati saja Selasa ini
Meski masih terasa merah
Membara...
Balaraja, 02 April 2013
*Menyambut Selasa yang merah*
Langganan:
Postingan (Atom)
~ Di Ujung Lelah ~
tiba di ujung lelah dalam semu senyum atas pemaklumanku pergilah kini ke luas samudra yang engkau pilih tanpa aku di buritan kapalm...
-
tiba di ujung lelah dalam semu senyum atas pemaklumanku pergilah kini ke luas samudra yang engkau pilih tanpa aku di buritan kapalm...
-
Lelakiku.. Jingga di ufuk timur Bersinau-sinau hangat Menembus lembut pagi kita Seiring embun yang berlalu Bersulih angkuhnya Semburat sang ...
-
Pak, aku kangen...! Jarik ombo yang dulu dipakai menggendongku sambil disambi kemana-mana itu masih ada pak? Pasti warnanya udah njeblug ...