Jumat, 10 Agustus 2018

~ Menyerah ~

biar saja ku tetap di sini
sebagai ilalang mungkin
yang menunggu embus angin
untuk dapat sekedar meliukkan batangku

atau sebagai dedaunan
yang menunggu kemarau tiba
untuk sekedar menggugurkan daunku yang kering
meranggas..!

sebab ketika kutanya pada semua
hanya gelengan kecil jawab yang kudapat

Aku menyerah!

DW
TNG. 11 08 14

Selasa, 07 Agustus 2018

~ Senja Menjingga ~

dingin senja
menabur aroma kemarau
menusuk setiap ruas raga
di setangkup sisa rasa ini 

nganga rindu semakin merona
menjingga tanpa kupinta
meliuk lembut di sudut hatiku
yang mulai kerontang menunggu
sebentuk rasa yang masih erat tergenggam
enggan kau taburkan

hati ini mulai berjelaga
berkelana di sisi entah 
lalu, adakah nganga yang sama
pada ruang hatimu yang juga menjingga
mengalunkan aneka kidung nirwana

Nimas…!

DW
07/08/18

Selasa, 31 Juli 2018

~ acuhku pada adamu ~

entahlah
segala senyap ini
adalah riuh bagimu
begitu katamu

lanjutkan saja langkahmu
lalu biarkan anganmu
mengembara ke savana luas
hingga kelak pekat malam
telah menjemputmu
tanpaku..

gigil pada awal malamku
tanpa gemintang di sana
lembab berpagut gulita
terasa demikian nisbi

serupa acuhku
atas adamu
yang t'lah bersulih makna
menjadi tiadaku

pergilah
jinjing saja angkuhmu
lalu biarkan jemawa
memeluk erat pandirmu

wahai!

DW
Tigaraksa, 31/07/2018

Pak, aku kangen...!

Pak, aku kangen...!

Jarik ombo yang dulu dipakai menggendongku sambil disambi kemana-mana itu masih ada pak? Pasti warnanya udah njeblug ya pak.
Ingat pak waktu aku nyungsep di halaman samping gara-gara kabur dikejar induk ayam kita yang baru turun dari petarangan itu?

Padahal hanya luka kecil di sikut dan dengkulku, tapi nyaris sehari penuh aku berada dalam gendongan jarik ombo di punggungmu, meski kakiku hampir menyentuh tanah saking udah tingginya tubuhku.

Aku tetap ngetepel dalam gendonganmu, bahkan disambi memanjat anak-anak tangga di pohon aren mengambil nira bahan gula jawa dagangan kita.

Pak, aku kangen...!
Radio AM kita yang besar berbaterai 8 itu masih ada pak?
Dulu aku sering ya pak dibangunkan tengah malam pada saat sampai segmen uyon uyon dari wayang kulit semalam suntuk yang disiarkan RRI Jogja itu pak..
Yaaa untuk sekedar kita terbahak bersama mendengarkan dagelan para punakawan itu ya pak.

Pak, aku kangen...!
Kenapa sih pak, seumur hidupku tak pernah sekalipun aku dimarahi, dicubit atau dijewer?
Padahal aku suka bandel kan pak? Kalo udah main ciblon di sungai di perbatasan desa kecil kita bersama teman temanku, aku suka lupa pulang.

Saat teman temanku dihadiahi jeweran, aku hanya kau hadiahi sedikit gelengan kepalamu dan senyum kecil di sudut bibirmu sewaktu engkau menjemput paksa aku.

Pak, aku kangen..!
Aku rindu semua masa kecil dan remajaku bersama hangatmu.
Dan sungguh bukan sebuah drama
Saat tiba-tiba mataku menghangat tanpa kupinta pak
Baik-baik di sana ya pak.. Senantiasa sehat dan panjang usia..

Pak, aku kangen!!!

Tangerang, 30/07/2015

Sabtu, 28 April 2018

~ Makan tuh Cinta! ~


Istilah seperti itu mungkin sudah sering sekali kita dengar.
Entah dalam konteks sedang bergurau atau dalam konteks serius.
Entah kenapa kalimat seperti ini biasanya lebih banyak ditujukan untuk para wanita (para istri)

Kalimat ini sesungguhnya dipakai untuk menggantikan kata sukurin! atau rasain loh! atau kalimat "mengerikan" yang senada dengan itu.

Bisa ditujukan untuk orang yang tidak kita sukai pada saat dari sisi kita sepertinya dia terlihat tidak bahagia karena secara materi terkesan kurang tapi tetap bergeming mempertahankan hubungan bersama pasangannya dengan alasan cinta.

Tapi dalam beberapa kasus, kalimat seperti ini justru terlontar dari orang tua yang ditujukan untuk putrinya yang pada saat memutuskan untuk memilih suaminya dulu sudah diperingatkan bahwa lelaki yang dipilihnya tidak akan bisa membahagiakan karena bukan kategori horang kayah tapi si anak gadis tetap membulatkan tekad memilihnya karena lagi lagi alasan cintrong tapi akhirnya rumah tangga si anak benar tampak tidak berkecukupan seperti harapan sang orang tua.
Miris memang kalau kalimat ini datangnya dari orang tua yang seharusnya selalu melemparkan energi positif dalam bentuk doa doa untuk kebahagiaan sang anak.

Nah, saia hanya mencoba ngemeng dari sisi saia yang hanya remahan intip goreng.

Menurut saia, yang namanya "makan cinta" itu memang benar adanya.

Begini, pada saat kita memang telah berkomitmen untuk saling mencintai, pada saat berada di posisi ekonomi yang katakanlah morat marit, InsyaAllah kita akan tetap mencoba sebisa mungkin untuk tetap bertahan bersama.

Halah, Dot.. Didot! Itu mah cumak teori belaka! realistis dong!
Kan beli beras di warung gak boleh bayar pake cinta!
Terus rumah, motor, listrik, pulsa, SPP anak emang boleh dibayar pake cinta!
Yesss, agree pake banget! itu memang hal hal nyata di depan hidung yang paling mudah dilihat!

Tapi sepanjang masa masa itu kita hadapi berdua dengan tetap teguh saling berpegangan dalam cinta yang sama dan benar benar berserah diri hanya kepada-Nya InsyaAllah semua akan baik-baik saja.

Sorry of the maaf bagi yang berseberangan pendapat sama saia tapi saia katakan semua ini karena saia pernah berada di titik yang lebih berat dari itu dan so far kami masih tetap bertahan  dan aku sangat yakin bahwa itu karena kekuatan kami "makan cinta" dan yang pasti karena Dia mendengar doa kita hamba-Nya yang tak pernah menyerah saat diberikan ujian.

So, tetap optimis dan mari makan cinta!

Sabtu, 28 Oktober 2017

~ Usah Engkau Tanya ~

usah engkau bertanya lagi 
kapan kita kan menepi 
untuk berlabuh 
di pelabuhan impian

bukankah samudra itu adalah kita
menjadi buih
di hamparan air tak bertepi 
menjadi ombak
 yang memecah di tengah lautan 
derunya indah bukan

angin darat sesekali angkuh menyapa
membuat debur ombak kita
tak lagi berirama
bahkan berulang kali
badai nyaris memorakporandakan kita
tapi lihatlah
kedua tangan kita masih teguh
saling erat menggenggam

sudahlah
nikmati saja syahdu detak jantung kita
yang senantiasa menyatu
dengan deru ombak ini

jika suatu ketika
angin kan mengantar kita ke tepian
membawa kita ke hamparan pasir putih luas 
itulah kemenangan dan kemerdekaan hakiki

usah engkau bertanya lagi
kapan kita kan menepi
Nimas!

Balaraja, 25 10 14

Jumat, 14 Juli 2017

~ Reuni Penuh Cinta 280617 ~

pagiku yang indah
sesaat mentari  lindap di balik kabut pagi
sejenak..
serupa ia berikanku sebuah tanda
atas sebuah alinea baru 
di paragraf yang sedang pelan kueja
dengan sisa cinta 
yang masih bersinau di ujung entah

ada riak rasa seperti  entah
menyeruak syahdu 
jatuh satu satu
seiring embun yang luruh
berganti hangat mentari
di pagi kita yang berhias senyum 
ah, 
senandung rindu ini demikian merdu
memecah senyap di dasar hati
ini bahagiaku, ini bahagia kita

sahabat..
duapuluhenam warsa yang lalu
kita berada di sini
mengukir berjuta kenangan
yang hingga kini
masih demikian kokoh terpatri
tersimpan di dasar hati
tak usang
meski embus angin demikian kencang
menerbangkan angan
‘tuk kita kembali pulang
Dalam cerita yang sama

duapuluh enam warsa sudah sahabat
kita mohon pamit pergi
dari tempat dimana semua kisah dimulai
mengepakkan sayap-sayap kecil kita
menuju samudra nan luas tak berbatas
dengan segala bentuk riak dan gelombang
membawa rindu
atas segala cerita kita

dan kini, di sini..
atas segala kuasa Sang Maha
kita berada pada riak kerinduan
yang tumpah di akhir penantian
ah, padang pertemuan ini demikian indah
menjawab dahaga atas puncak
dari segala kerinduan ini

serupa indah mimpi kita
pada lelap di penghujung malam
di peraduan kita
yang senantiasa semerbak aroma rindu
rindu yang senantiasa membuncah
menggelisah mengharap takdir tiba
memulai kembali semua kisah
lantang kita eja ia sebagai sebentuk
bahagia...

sahabat..
genap duapuluh enam kali sudah
almanak di dinding kita berganti angka
ratusan purnama telah kita lalui
di dunia kita yang terpisah jarak dan waktu
tapi tidak dengan hati kita
yang masih terbalut cinta yang tetap sama
serupa lembut sapa kita kala itu

kini..
ada hangat yang turut menyeruak
kurasakan lembab di sudut mata kita
namun tak pernah tereja ia
sebagai pilu atau duka yang mendera
ini tangisan bahagia kita sahabat
atas segala tumpah rindu di hati kita

terimakasih sahabat..
terimakasih untuk hari indah ini
terimakasih untuk sejuta keharuan
yang tercipta hari ini
kelak..
kan kita ukir kembali episode baru
dengan aroma cinta kita
yang tetap sama..


Purworejo, 28 Juni 2017

~ Menyerah ~

biar saja ku tetap di sini sebagai ilalang mungkin yang menunggu embus angin untuk dapat sekedar meliukkan batangku atau sebagai dedaun...