Rabu, 30 Januari 2019

~ Aku Mencintaimu ~


Inginnya kukabarkan rasa ini
kepada rona jingga
di awal pagi kita yang hening
meluruhkan setiap riak rasa
riuh namun enggan meletup
lindap di balik semburat pagi kita

telah engkau genapkan puisiku
terangkai syahdu, bait demi bait
mengetuk kerontang dinding hati
yang menahan kerinduan atas engkau

serupa rinai hujan yang luruh
menyaput santun buih cintaku
dan aku masih tetap berdiri di sini
hingga senja memagut malam
menghias nada-nada yang kugubah
dan tetap membiaskan buncah rasa
aku mencintaimu…


DW
30 01 2019

Jumat, 30 November 2018

~ Angkuhmu ~


Bersenggama dengan keangkuhanmu 
adalah sebuah legenda 
yang terus engkau pertontonkan 
nyaris tanpa jeda 
bahkan saat lelap hampir kau jelang

Terus tengadahkanlah dagumu
tetaplah busungkan dada kekarmu, wahai!
sementara biarkan aku tetap di sini 
dalam sikap sempurna 
menunggu aba-aba-Nya 
menikmati setiap adegan yang kau jajakan 
dengan jalang

Lalu nafasmu mulai memburu 
disusul pekik lenguhanmu 
engkau orgasme! 
dalam fatamorgana
sebab engkau hanya sedang beronani


Balaraja, 01 12 18


Selasa, 06 November 2018

~ Halimun seusai badai ~

pagimu tak lagi semerbak
aromanya telah bersulih makna
menjadi anyir darah
atas setangkup cinta yang terempas badai restu

nikmati saja anyirnya
hingga pohonmu kian merindang
lalu berbuah meraya raya
seperti inginmu

badai ini hanya sesaat
maka izinkanku menggamit lenganmu
tuk sekedar turut menahan empasnya

esok, bahkan saat embun pagi masih tersisa
badai itu telah sirna
sebab ia telah tereja
sebagai halimun
yang mesra menjilat wajah letihmu

DW
Tigaraksa, 06 11 18

Jumat, 10 Agustus 2018

~ Menyerah ~

biar saja ku tetap di sini
sebagai ilalang mungkin
yang menunggu embus angin
untuk dapat sekedar meliukkan batangku

atau sebagai dedaunan
yang menunggu kemarau tiba
untuk sekedar menggugurkan daunku yang kering
meranggas..!

sebab ketika kutanya pada semua
hanya gelengan kecil jawab yang kudapat

Aku menyerah!

DW
TNG. 11 08 14

Selasa, 07 Agustus 2018

~ Senja Menjingga ~

dingin senja
menabur aroma kemarau
menusuk setiap ruas raga
di setangkup sisa rasa ini 

nganga rindu semakin merona
menjingga tanpa kupinta
meliuk lembut di sudut hatiku
yang mulai kerontang menunggu
sebentuk rasa yang masih erat tergenggam
enggan kau taburkan

hati ini mulai berjelaga
berkelana di sisi entah 
lalu, adakah nganga yang sama
pada ruang hatimu yang juga menjingga
mengalunkan aneka kidung nirwana

Nimas…!

DW
07/08/18

Selasa, 31 Juli 2018

~ acuhku pada adamu ~

entahlah
segala senyap ini
adalah riuh bagimu
begitu katamu

lanjutkan saja langkahmu
lalu biarkan anganmu
mengembara ke savana luas
hingga kelak pekat malam
telah menjemputmu
tanpaku..

gigil pada awal malamku
tanpa gemintang di sana
lembab berpagut gulita
terasa demikian nisbi

serupa acuhku
atas adamu
yang t'lah bersulih makna
menjadi tiadaku

pergilah
jinjing saja angkuhmu
lalu biarkan jemawa
memeluk erat pandirmu

wahai!

DW
Tigaraksa, 31/07/2018

Pak, aku kangen...!

Pak, aku kangen...!

Jarik ombo yang dulu dipakai menggendongku sambil disambi kemana-mana itu masih ada pak? Pasti warnanya udah njeblug ya pak.
Ingat pak waktu aku nyungsep di halaman samping gara-gara kabur dikejar induk ayam kita yang baru turun dari petarangan itu?

Padahal hanya luka kecil di sikut dan dengkulku, tapi nyaris sehari penuh aku berada dalam gendongan jarik ombo di punggungmu, meski kakiku hampir menyentuh tanah saking udah tingginya tubuhku.

Aku tetap ngetepel dalam gendonganmu, bahkan disambi memanjat anak-anak tangga di pohon aren mengambil nira bahan gula jawa dagangan kita.

Pak, aku kangen...!
Radio AM kita yang besar berbaterai 8 itu masih ada pak?
Dulu aku sering ya pak dibangunkan tengah malam pada saat sampai segmen uyon uyon dari wayang kulit semalam suntuk yang disiarkan RRI Jogja itu pak..
Yaaa untuk sekedar kita terbahak bersama mendengarkan dagelan para punakawan itu ya pak.

Pak, aku kangen...!
Kenapa sih pak, seumur hidupku tak pernah sekalipun aku dimarahi, dicubit atau dijewer?
Padahal aku suka bandel kan pak? Kalo udah main ciblon di sungai di perbatasan desa kecil kita bersama teman temanku, aku suka lupa pulang.

Saat teman temanku dihadiahi jeweran, aku hanya kau hadiahi sedikit gelengan kepalamu dan senyum kecil di sudut bibirmu sewaktu engkau menjemput paksa aku.

Pak, aku kangen..!
Aku rindu semua masa kecil dan remajaku bersama hangatmu.
Dan sungguh bukan sebuah drama
Saat tiba-tiba mataku menghangat tanpa kupinta pak
Baik-baik di sana ya pak.. Senantiasa sehat dan panjang usia..

Pak, aku kangen!!!

Tangerang, 30/07/2015

~ Di Ujung Lelah ~

tiba di ujung lelah dalam semu senyum atas pemaklumanku pergilah kini ke luas samudra yang engkau pilih tanpa aku di buritan kapalm...