Sabtu, 17 Desember 2016

Tarawihku, "Tamparan"-ku

Dua hari lalu kusempatkan pulang kantor lebih awal karena beberapa hari tidak menunaikan shalat tarawih berjama’ah sepertinya membuatku merasa menjadi “budak” dari segala bentuk rutinitas melelahkan di kantor.

Entah mengapa, malam itu rasanya benar-benar menggebu sekali keinginan untuk bisa shalat tarawih berjama’ah di musholla sederhana di depan rumahku

Ternyata setelah kurenungkan, mungkin menggebunya niatku itu adalah salah satu jalan-Nya untuk “menampar keras” atas kesombonganku selama ini.

Singkat cerita, tibalah aku di musholla kecil di depan rumahku itu dan segera membaur dengan jama’ah yang lain.

Semua terasa biasa saja, tak ada yang istimewa. 
Aku berada di shaf ketiga dari empat shaf yang ada.
Raka’at demi raka’at kulalui dengan berusaha sekhusyu’ mungkin meski sesekali terdengar jerit anak-anak balita yang belum faham makna shalat yang sebenarnya.

Tapi setelah beberapa raka’at berlalu, seperti ada yang ganjil dengan jama’ah yang berada di samping kiriku karena sekilas kulirik entah kenapa sepertinya dia tidak bisa melakukan gerakan-gerakan shalat dengan sempurna. 

Sesekali kakiku terasa tertindih saat gerakan duduk, sikutnya yang selalu mendorong kecil bagian tubuh kiriku saat gerakan sujud dan yang paling mencolok kulihat adalah sepertinya dia selalu ketinggalan beberapa saat dibanding jama’ah yang lain saat mengikuti gerakan-gerakan shalat sang imam.

Tibalah di akhir shalat tarawih menuju witir 3 raka’at dan tradisi di musholla kami adalah jeda waktu antara tarawih dengan witir akan diisi dengan kultum dari penceramah yang bergiliran memberikan tausiahnya.

Waktu itu kupergunakan untuk mengobati penasaranku dengan jama’ah di samping kiriku itu. 
Dan seketika aku kaget bercampur sedih juga haru karena ternyata dia boleh dibilang seseorang yang berkebutuhan khusus.

Maaf – kaki kanannya ternyata tidak sempurna, begitu juga dengan kedua lengannya yang sedikit bengkok menyulitkannya untuk bersedekap dengan sempurna, dan sepertinya saraf leher atau semacamnya juga terganggu, terlihat dari sulitnya dia mengendalikan gerakan kepalanya dan sepertinya selalu bergerak ke arah tengadah tak beraturan.

Mungkin bisa digambarkan seperti –maaf lagi- penderita idiot atau keterbelakangan mental.

Subhanallah…. 
Tanpa terasa aku lemas seperti hilang tenaga untuk kemudian mataku mulai berkaca-kaca. 
Aku merasa betapa sombongnya aku selama ini. 
Dengan kondisiku yang diberikan fisik yang sangat sempurna oleh-Nya tapi terkadang bahkan tak ingat hanya untuk sekedar mengucap kata syukur atas segala nikmat ini. 

Shalat yang kadang sengaja di akhir waktu, bahkan beberapa terlewat karena berbagai alasan yang kubuat sendiri sebagai pemakluman atas kebodohan yang kubuat.

Sementara si “jama’ah special” di sampingku itu dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tetap semangat menyelesaikan seluruh raka’at Isya’ dan tarawih yang terkadang untuk kita yang sempurna saja terasa cukup berat.

Dan tarawihku malam itu sungguh tarawih yang sangat berkesan di antara ratusan shalat tarawih yang pernah kulakukan di sepanjang hidupku.

Sahabat sahabat hati, sengaja kubagi pengalaman kecil ini dengan satu niat tulus, semoga ini bisa bermanfaat untuk kita semua yang terkadang selalu melihat bahwa kita dalam kesulitan, tapi jarang merasa bahwa jauh lebih banyak orang yang lebih sulit daripada kita…

Di akhir kata, semoga kita semua senantiasa termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur.. 
Amin..


Bidara Village, 25/07/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

~ Menyerah ~

biar saja ku tetap di sini sebagai ilalang mungkin yang menunggu embus angin untuk dapat sekedar meliukkan batangku atau sebagai dedaun...