Jumat, 16 Desember 2016

~ Untukmu tuan Serigala ~

Wahai tuan serigala..

Kemanakah hilangnya 
Nyala lentera kesabaran di ujung hatiku untuk engkau?

Kemarin pagi..  
Saat masih tersisa gelap dan bening embun malam
Aku masih bisa menyaksikan nyalanya 
Meski kurasakan mulai meredup..

Dan kini
Nyala itu sudah benar-benar punah 
Tanpa sisa

Perlahan tapi pasti
Telah berubah warna menjadi bara dendam 
Yang panas memerah

Letih mungkin
Atau bosan?

Ah.. 
Entahlah tuan serigala.. 
Rasanya tak ingin lagi aku menerjemahkan ini semua..

Gemeletuk gigi taringmu  
Sorot merah matamu dulu 
Saat mati-matian membela serigala kecilmu yang kumusuhi itu..
Hadir kembali menari di hadapku

Kini baru engkau rasakan 
Betapa serigala kecilmu 
Telah berubah menerkammu dengan taringnya
Yang bahkan lebih tajam dari taringmu 
Yang kini mulai menumpul digerogoti usia…

Dan pagi tadi… 
Dengan peluh ketakutan engkau mengetuk 
Pintu rumah sederhanaku yang lama tenang tak terusik…

Engkau menangis, memohon, meratap, menyesal.

Dan aku?
Ahaayyy....! aku terbahak..

Aku terbahak bukan karena ku tak mendengar ratapmu wahai tuan…
Tapi aku terbahak senang 
Sebab aku merasa menang melihatmu meratap sepertiku dulu

Pergilah tuan serigala renta… 
Pergilah jauh dari sini…

Bahkan saat suatu ketika 
Saat serigala kecilmu akan mencabikmu
Mungkin tawaku akan semakin terbahak..

Jangan pernah engkau harapkan 
Satu titik saja air mata ini jatuh..
Tuk menangisi darah segar 
Yang mengalir deras dari tubuhmu 
Karena cabikan serigala kecilmu…


Bidara Village, 07 Juli 2011

* Saat sabar berubah menjadi dendam *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

~ Menyerah ~

biar saja ku tetap di sini sebagai ilalang mungkin yang menunggu embus angin untuk dapat sekedar meliukkan batangku atau sebagai dedaun...